Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 Oktober 2010 | By: Togetherness

POTRET KEMISKINAN

Lama dari mereka terbuang,begitu mudah tersingkirkan.Di tengah kezaliman,mengantar ruang kenistaan.Bertahan dari keadaan,berjuang untuk hidup.Bukan mereka pemalas, ataupun pembual belaka adanya.Mandi keringat,banting tulang tak segan mereka lakukan,meskipun hanya untuk bertahan hidup.
Teringat kembali ku pada sebagian kisah diantaranya,..mati bersama yang tersayang
Bersama 4 buah hatinya,pemulung lusuh mencoba bertahan,istri menghilang pergi bersama kelaliman,tanpa kesetiaan dan tanggung jawab.Menyusuri jalan,mengais bersama sampah,bau busuk sahabatnya.Tak malu ia menunggu,… sebagian orang yang membuang sisa makanannya.Ya,… ya,.. hanya tuk bertahan.
Hidup yang selalu di hampiri kesedihan,setiap pulang buah hatinya kian selalu menanyakan “bapak bawa apa?”,”ibu kapan pulang?”,”kenapa kami tak sekolah?”,pedih,… perih,.. menusuk dalam hati yang terasa pasti.Terbesit hati tuk mengakhiri penderitaan yang di alami kian terus menghantui.Pemulung itu mencoba meracuni buah hatinya dan mati bersama mereka.Di putuskannya hal itu.
Dengan menjual apa apa yang masih dia punya dan apa apa yang ada,di belikannya baju baju indah tuk buah hatinya,di belikannya makan makanan lezat tuk buah hatinya dan meracuninya.,,,
“ Nak sini, kita berkumpul,bapak ada kabar gembira untuk kalian.Hari ini bapak banyak rejeki,maka bapak belikan ini untuk kalian,dan baju ini dari ibu kalian.Besok ibu… ingin bertemu kalian dengan memakai baju ini,besok pagi sekali kita berangkat,maka pakailah baju ini sekarang supaya besok tidak terlambat”
Serasa angin syurga menyapa anak anak itu, ceria dengan baju baju itu .
“Sekarang makanlah kalian”
“Tidak,.. kami mau bapak yang menyuapin kami” Sahut anak sulungnya
Senyum bersama tangis hati, merona di muka pemulung,”Baiklah,, bapak akan menyuapin kalian satu persatu,dari puteri(anak bungsu) dulu ya,,?”
Mengangguk mereka seraya tak sabar menunggu.Satu persatu di suapinnya,penuh keceriaan di muka mereka dan seusainya di suruh tidur mereka,saatnya giliran pemulung yang makan makanan itu.
Bersama malam gelap gulita,…tlah terasa senja tiba,manakala menyapa seorang teman dari pintu luar…. Guna mengajak mengais sampah.
“Di….. wardi… kamu gak kerja ya…?”
Terbangun kaget pemulung… “Di mana aku,..ini Syurga.. apa Neraka..?”
Melihatnya ke samping buah hatinya masih tertidur,mencoba membangunkan mereka,.. dan,… tak bangun jua,…
“Mereka,… mereka,… tlah mati,… aku,..membunuh mereka,kenapa ku tak bersama mereka?”
Hanya tangis kesedihan penuh penyesalan,.. karena terundang suara tangisan,sesegera mungkin teman di luar,masuk rumah pemulung.
Sekarangpun pemulung itu harus meratapi kesedihannya di balik jeruji besi.
Sebenarnya siapa yang seharusnya merasa paling bersalah dalam kisah ini.

Sabtu, 09 Oktober 2010 | By: Togetherness

Dunia impian

"Andaikan permohonanku dapat terwujud, Hidupku pasti akan menyenangkan"

“Nina, ayo berangkat! Nanti kita tinggal, nih!“. Ternyata,dari tadi aku melamun. Ternyata teman-teman sedang menunggu aku. Kami berangkat ke sekolah bersama. “Melamun lagi ya? Kamu terlalu banyak berkhayal!” kata seorang sahabatku Arsya dengan nada menggoda. “Berisik!!” Jawabku marah. “Kamu memang punya kebiasaan mengkhayal, sih!” sahut sahabatku yang lain, Mira. “Bukan keinginanku punya kebiasaan melamun sambil berkhayal! Kamu kira aku mau punya kebiasaan seperti itu?!” Sahutku dengan wajah yang semakin cemberut. “Ya, ya.. Aku tahu, aku ‘kan hanya bercanda. Tapi, kamu harus sadar, kita ini sudah SMP, bukan saatnya kita mengkhayal terus!” Seru Arsya dengan nada sok serius. Jam pelajaran terakhir adalah komputer. Setelah selesai, kami menjalani jam bebas .Aku melamun membayangkan banyak hal “ Nin, itu situs apa?” Tegur Mira. Aku tidak mengetahui bahwa sambil melamun, aku telah mengakses sebuah situs. "situs ini kelihatan mencurigakan sekali" sahutku. "Lihat! lihat! Di situs ini tertulis, segala dunia yang kita inginkan bisa kita ciptakan!” Kata Mira bersemangat. “Tapi, ini aneh, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang berbahaya?” sahutku dengan nada sinis. “Ah, sudahlah, ini hanya program yang bisa membuat dunia virtual, tidak usah terlalu khawatir begitu! jawab Mira. Akhirnya aku terbujuk dan memutuskan untuk mencobanya. Pada kolom “Seperti apa dunia yang ingin anda ciptakan?” aku menuliskan “dunia tempat segala permohonan kita dapat terwujud”. Mira menekan tombol Enter. Tiba-tiba kesadaranku hilang dan… Saat terjaga ternyata aku ada di suatu tempat yang indah. Aku mencoba mengamati daerah sekitarku. Tiba-tiba ada suara lembut yang memanggil namaku,”Nina,ini dunia yang kamu inginkan. Aku akan mengabulkan semua hal yang kamu inginkan..”Serius?. Aku meminta segala hal yang kuinginkan. Suara itu bertanya, “apakah kamu puas?”Aku menjawab, “ya!”Akhirnya sudah tiga hari aku tinggal di tempat ini. Suara lembut itu memanggil kembali memanggil namaku, "Nina, sudah tiga hari kamu ada di dunia ini. Aku ingin meminta kepastian darimu, Apakah kamu ingin tetap tinggal di duniamu ini? Ataukah kamu ingin kembali? Apakah kamu merasa puas?” Aku tidak sepuas ketika aku tiba. Rasanya semuanya serba mudah.Tapi sayang juga rasanya.. Akhirnya aku memilih tetap tinggal. Hari keempat, aku mencari-cari suara lembut itu. Aku ingin kembali…Suara lembut itu tiba-tiba menegurku,”Nina, Kamu berkata ingin tetap tinggal disini! Aku sudah memberi segala yang kamu mau, kamu tidak pernah bersyukur atas semua yang kamu miliki, sekarang karena kesepian, kamu mau seenaknya pulang?!” Aku tertunduk malu, ternyata, selama ini aku tidak pernah bersyukur, padahal aku punya orang tua dan teman-teman yang perhatian”.Dengan menyesal aku berkata,”aku sungguh tidak bersyukur, padahal aku memiliki orang tua dan teman yang baik.” Tiba-tiba...Aku kembali ke saat mengakses situs itu. Syukurlah aku bisa kembali. Tidak sabar ingin mengucapkan terimakasih pada orang tua dan teman-temanku. Aku berjanji pada diriku, aku akan berusaha mensyukuri segala yang ku miliki.Kejadian itu sangat mengubahku. Aku sungguh bersyukur atas kejadian itu. Sampai saat ini, aku yakin bahwa Tuhanlah yang telah mengingatkanku. Dunia yang kuimpikan ternyata sudah ada di depan mataku Sungguh aku bersyukur atas segala yang kumiliki, terimakasih Tuhan..
Selasa, 05 Oktober 2010 | By: Togetherness

Persahabatan

Pagi hari saat aku terbangun tiba-tiba ada seseorang memanggil namaku. Aku melihat keluar. Ivan temanku sudah menunggu diluar rumah kakekku dia mengajakku untuk bermain bola basket.“Ayo kita bermain basket ke lapangan.” ajaknya padaku. “Sekarang?” tanyaku dengan sedikit mengantuk. “Besok! Ya sekarang!” jawabnya dengan kesal.“Sebentar aku cuci muka dulu. Tunggu ya!”, “Iya tapi cepat ya” pintanya.Setelah aku cuci muka, kami pun berangkat ke lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah kakekku.“Wah dingin ya.” kataku pada temanku. “Cuma begini aja dingin payah kamu.” jawabnya.Setelah sampai di lapangan ternyata sudah ramai. “Ramai sekali pulang aja males nih kalau ramai.” ajakku padanya. “Ah! Dasarnya kamu aja males ngajak pulang!”, “Kita ikut main saja dengan orang-orang disini.” paksanya. “Males ah! Kamu aja sana aku tunggu disini nanti aku nyusul.” jawabku malas. “Terserah kamu aja deh.” jawabnya sambil berlari kearah orang-orang yang sedang bermain basket.“Ano!” seseorang teriak memanggil namaku. Aku langsung mencari siapa yang memanggilku. Tiba-tiba seorang gadis menghampiriku dengan tersenyum manis. Sepertinya aku mengenalnya. Setelah dia mendekat aku baru ingat. “Bella?” tanya dalam hati penuh keheranan. Bella adalah teman satu SD denganku dulu, kami sudah tidak pernah bertemu lagi sejak kami lulus 3 tahun lalu. Bukan hanya itu Bella juga pindah ke Bandung ikut orang tuanya yang bekerja disana. “Hai masih ingat aku nggak?” tanyanya padaku. “Bella kan?” tanyaku padanya. “Yupz!” jawabnya sambil tersenyum padaku. Setelah kami ngobrol tentang kabarnya aku pun memanggil Ivan. “Van! Sini” panggilku pada Ivan yang sedang asyik bermain basket. “Apa lagi?” tanyanya padaku dengan malas. “Ada yang dateng” jawabku. “Siapa?”tanyanya lagi, “Bella!” jawabku dengan sedikit teriak karena di lapangan sangat berisik. “Siapa? Nggak kedengeran!”. “Sini dulu aja pasti kamu seneng!”. Akhirnya Ivan pun datang menghampiri aku dan Bella.Dengan heran ia melihat kearah kami. Ketika ia sampai dia heran melihat Bella yang tiba-tiba menyapanya. “Bela?” tanyanya sedikit kaget melihat Bella yang sedikit berubah. “Kenapa kok tumben ke Jogja? Kangen ya sama aku?” tanya Ivan pada Bela. “Ye GR! Dia tu kesini mau ketemu aku” jawabku sambil menatap wajah Bela yang sudah berbeda dari 3 tahun lalu. “Bukan aku kesini mau jenguk nenekku.” jawabnya. “Yah nggak kangen dong sama kita.” tanya Ivan sedikit lemas. “Ya kangen dong kalian kan sahabat ku.” jawabnya dengan senyumnya yang manis.Akhinya Bella mengajak kami kerumah neneknya. Kami berdua langsung setuju dengan ajakan Bela. Ketika kami sampai di rumah Bela ada seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berumur 4 tahun. “Bell, ini siapa?” tanyaku kepadanya. “Kamu lupa ya ini kan Dafa! Adikku.” jawabnya. “Oh iya aku lupa! Sekarang udah besar ya.”. “Dasar pikun!” ejek Ivan padaku. “Emangnya kamu inget tadi?” tanyaku pada Ivan. “Nggak sih!” jawabnya malu. “Ye sama aja!”. “Biarin aja!”. “Udah-udah jangan pada ribut terus.” Bella keluar dari rumah membawa minuman. “Eh nanti sore kalian mau nganterin aku ke mall nggak?” tanyanya pada kami berdua. “Kalau aku jelas mau dong! Kalau Ivan tau!” jawabku tanpa pikir panjang. “Ye kalau buat Bella aja langsung mau, tapi kalau aku yang ajak susah banget.” ejek Ivan padaku. “Maaf banget Bell, aku nggak bisa aku ada latihan nge-band.” jawabnya kepada Bella. “Oh gitu ya! Ya udah no nanti kamu kerumahku jam 4 sore ya!” kata Bella padaku. “Ok deh!” jawabku cepat.Saat yang aku tunggu udah dateng, setelah dandan biar bikin Bella terkesan dan pamit keorang tuaku aku langsung berangkat ke rumah nenek Bella. Sampai dirumah Bella aku mengetuk pintu dan mengucap salam ibu Bella pun keluar dan mempersilahkan aku masuk. “Eh ano sini masuk dulu! Bellanya baru siap-siap.” kata beliau ramah. “Iya tante!” jawabku sambil masuk kedalam rumah. Ibu Bella tante Vivi memang sudah kenal padaku karena aku memang sering main kerumah Bella. “Bella ini Ano udah dateng” panggil tante Vivi kepada Bella. “Iya ma bentar lagi” teriak Bella dari kamarnya. Setelah selesai siap-siap Bella keluar dari kamar, aku terpesona melihatnya. “Udah siap ayo berangkat!” ajaknya padaku.Setelah pamit untuk pergi aku dan Bella pun langsung berangkat. Dari tadi pandanganku tak pernah lepas dari Bella. “Ano kenapa? Kok dari tadi ngeliatin aku terus ada yang aneh?” tanyanya kepadaku. “Eh nggak apa-apa kok!” jawabku kaget.Kami pun sampai di tempat tujuan. Kami naik ke lantai atas untuk mencari barang-barang yang diperlukan Bella. Setelah selesai mencari-cari barang yang diperlukan Bella kami pun memtuskan untuk langsung pulang kerumah. Sampai dirumah Bella aku disuruh mampir oleh tante Vivi. “Ayo Ano mampir dulu pasti capek kan?” ajak tante Vivi padaku. “Ya tante.” jawabku pada tante Vivi.Setelah waktu kurasa sudah malam aku meminta ijin pulang. Sampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk ganti baju. Setelah aku ganti baju aku makan malam. “Kemana aja tadi sama Bella?” tanya ibuku padaku. “Dari jalan-jalan!” jawabku sambil melanjutkan makan. Selesai makan aku langsung menuju kekamar untuk tidur. Tetapi aku terus memikirkan Bella. Kayanya aku suka deh sama Bella. “Nggak! Nggak boleh aku masih kelas 3 SMP, aku masih harus belajar.” bisikku dalam hati.Satu minggu berlalu, aku masih tetap kepikiran Bella terus. Akhirnya sore harinya Bella harus kembali ke Bandung lagi. Aku dan Ivan datang kerumah Bella. Akhirnya keluarga Bella siap untuk berangkat. Pada saat itu aku mengatakan kalau aku suka pada Bella.“Bella aku suka kamu! Kamu mau nggak kamu jadi pacarku” kataku gugup.“Maaf ano aku nggak bisa kita masih kecil!” jawabnya padaku. “Kita lebih baik Sahabatan kaya dulu lagi aja!”Aku memberinya hadiah kenang-kenangan untuknya sebuah kalung. Dan akhirnya Bella dan keluarganya berangkat ke Bandung. Walaupun sedikit kecewa aku tetap merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bella. Aku berharap persahabatan kami terus berjalan hingga nanti.

Menunggu Pelangi

“Pelangi!! Ayo kesini! Hujannya lumayan deras nihh! Nanti sakit loh!” teriakku sekencang – kencangnya ke arah Pelangi yang dari tadi mengincar air hujan yang berjatuhan. “ Bentar donk! Lagi seru main sama air nih! Lagian kalo disitu nanti kita ga bisa lihat pelangi tau!” balas pelangi dari kejauhan. Aku segera mendatanginya. “ Mana Ngi pelanginya?” tanyaku penasaran dengan kata–katanya barusan. Di situ aku pertama kali melihat pelangi yang indaaahh sekali bersama dengan sahabat setiaku, Pelangi. Oh iya. Kenalkan namaku Tito. Aku sudah duduk di bangku kuliah. Semester 4. Aku sangat suka dengan dunia balap. Piala dan penghargaan prestasiku di dunia balap juga ga dikit lho. Cuplikan tadi hanya seberkas cerita kecilku bersama sahabatku Pelangi. Dan itu adalah kali pertama kita melihat pelangi bersama – sama dan akhirnya menjadi hobi kita setiap ada hujan. Hari ini, begitu indah untuk seluruh keluargaku. Ayah baru saja pulang dari Amerika. Kenangan indah masa kecilku bersama ayahku kembali lagi di benakku. Tami dan Hugo juga terlihat senang. Terutama si Tami, adikku yang paling kecil sekaligus paling manja dan cerewet ini seakan tak mau lepas dari pelukan ayahku. Mama juga memasakkan makanan kesukaan semua anggota keluarga hari ini. Tak lama, rintik – rintik hujan mulai berdatangan. Makin lama makin deras. Ikan – ikan dibelakang rumah membiarkan nuansa hening dan damai dari rintik – rintik hujan menambah volume air di habitat mereka. Tumbuhan – tumbuhan juga membiarkan tetesan air membasahi permukaan daun mereka. Teringat kembali aku akan si Pelangi. Dia masih satu kampus denganku. Ku angkat telepon genggamku yang ada di atas sofa yang sedang kududuki sekarang ini. Aku mencari nomer telepon dari sahabat tercintaku itu. Setelah kutemukan, kutekan tombol berwarna hijau yang ada di antara beberapa tombol lain. Mulailah suara halus dan lembut menjawab panggilanku. Aku mulai berbincang dengan Pelangi dan mengajaknya pergi bersamaku untuk melihat pelangi di angkasa sebelum hujan reda. “ Hayo kak Tito janjian sama kak Pelangi yaaa......” tiba – tiba suara si Hugo menyadarkanku dari serunya pembicaraan dengan Pelangi. Segera kutarik kulit tangannya setelah aku menutup telponku dengan Pelangi. “ Apaan sih kamu itu! Masih SMP jangan ikut – ikutan! Kakak mau pergi sama kak Pelangi dulu. Ntar bilangin ke ayah sama mama oke?” aku bertutur kepada adik laki – lakiku yang rese’ ini. Seraya dia menjawab, “ Pake pajak dong kak!”. Aku tercengang. Si Hugo nyengar – nyengir ga karuan. Oke deh, aku kasih dia uang jajan. “ Hai! Udah lama ya? “ sapaku dengan menepuk pundak si Pelangi yang sudah menunggu beberapa menit. “ Eh? Oh, enggak kok. Baru 10 menit.” Jawabnya dengan lembut. “ Oh. Sorry ya udah buat nunggu.“ pintaku dengan penuh harap. “ Nggakpapa To. Santai aja deh.” Jawabnya dengan santai dan tulus. Pelangi langsung menunjuk ke langit yang sedang menurunkan air saat itu. Kami berdua langsung tersenyum bersamaan. Bangku taman yang kami duduki terasa hangat dan nyaman. Huft, seperti dulu lagi. Sangat indah saat ini. Sungguh romantis situasinya. Sempurna sekali dengan rencanaku yang sudah beberapa tahun kupendam. Aku merentangkan tanganku ke pundak Pelangi. Pelangi yang terkaget segera memandang wajahku. Dengan lirih aku menanyakan hal yang sangat sulit untuk ditanyakan dan dijawab. “Ngi. Ehm.., Pelangi. L, lo, lo mau ga…” aku berusaha bertanya dan mengeluarkan kata – kata. Pelangi menjawab tanyaku yang belum selesai kuucapkan “Mau apa To? Kalo bantuin lo, gue mau kok.”. “ Ituh, bukan. Bukan bantuin gue. Tapi lo mau ga… jadi.. jadi.. pa..” aku ga bisa mengeluarkan kata – kata dengan sempurna. “Huft.. ayo bicara Tito!” aku berbicara pada diriku sendiri dalam hati. Mobil Avanza berwarna silver menghampiri kita. “ Eh To. Ga terasa kita udah lama lho disini. Tuh kakak gue udah jemput. Ngomongnya besok dikampus ya. Oke friend??” seru Pelangi bergegas menghampiri mobil kakaknya. “ Eh, Ow. Oke deh. Bye..” aku menjawab seruan pelangi dengan kecewa karena aku ga bisa mengungkapkan rasa yang sudah lama ingin aku ungkapkan. Apa lagi, dia memanggilku ‘friend’, apa mudah buat aku nembak dia?? Di kampus, aku memulai pelajaran bersama semua teman – temanku yang menambah ceria hari – hariku. Seperti awalnya, anak – anak GALGOBHIN atau pasnya genknya si Rico, anak terpintar,terbaik, dan tersopan di penjuru kampus sekaligus rivalku untuk mendapatkan Pelangi ini menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Pak Fardi yang adalah sang Master dari Matematika. Istirahat, aku menemui Pelangi duduk bersama Chika dan Tiwi di kantin. Aku meminta izin pada Chika dan Tiwi untuk berbicara sedikit dengan Pelangi. Dan aku diizinkan. Aku menarik tangan Pelangi ke depan pintu kantin. Dag dig dug makin terasa. Makin keras, keras, dan terasa jantung ini akan pecah. Mengapa? Karena aku berhasil dengan lancar menembak Pelangi. Sekarang aku tinggal menunggu jawaban. Kutatap matanya, ia juga menatap mataku. Dan jawaban apa yang kudapat? “Ehm, gimana yah? Oke deh. Tapi kita harus serius dan ga main-main oke?” Jelas saja kubalas “PASTI!!!”. Diriku serasa melayang bebas ke udara. Lalu kutemui bidadari di sana. Aku berdansa dengannya dengan disaksikan oleh keluarga dan sobat-sobatku disana. Siapa lagi bidadarinya kalau bukan Pelangi? Kita jadi sering banget jalan berdua. Dan sering juga melihat pelangi bersama-sama. Setelah gossip jadiannya aku sama Pelangi tersebar, Rico and friends mendatangi aku. Aduh, dia pasti bakal ngelabrak aku habis – habisan nih. Aku bergegas pergi dari dudukku. Tapi anak buah Rico menarik tas hitamku. Aku jatuh ke lantai dan merasa ketakutan sekali. Apalagi Dido dan Rahman yang bergabung di genk itu adalah juara boxing antar kampus. Keringat dingin bercucur dari dahiku hingga ujung dagu. Perlahan – lahan Rico menjulurkan tangannya. Aku memejamkan mata dengan kuat dan berusaha melindungi kepalaku dengan lenganku. Tapi apa? “ Slamet ya. Ternyata lo yang ngedapetin Pelangi duluan” Itu yang Rico ucapakan. Hah? Bener? Waw. Aku ga nyangka banget ada orang yang baik sampe kaya gitu. Makin seneng deh. Besoknya, aku berangkat ke kampus kaya biasa. Naik sepeda motor sama boncengin Pelangi. Pelangi juga memberiku gantungan kunci benang berwarna – warni mulai dari merah dan berurut sampai ungu. Ditengahnya terdapat plastik bertuliskan ‘Rainbow’ dan sekarang kugunakan untuk menghias kunci sepeda motorku. Pulangnya aku dikabarkan dengan kabar yang sangat tidak menggembirakanku. Ayahku masuk rumah sakit! Mengapa? Aku juga ga tau. Intinya, mama meneleponku dan memberitahu kalau ayah masuk rumah sakit. Segera kulajukan dengan cepat Sportbikes menuju rumah sakit. Aku melihat mama, Tami dan Hugo terduduk lemas di ruang tunggu. Aku segera menghampiri mama. “ Mama! Gimana ayah?!” bermuka pucat mama menjawab, “Ayahmu kumat lagi To. Padahal sudah lama penyakit ayah tidak muncul.” Aku terduduk lesu ke kursi di sebelah adikku Tami. Tami memandangi wajahku dengan raut wajahnya yang pucat dan berusaha menahan tangis. Aku mempersilahkan untuk meletakkan kepalanya di dadaku. Kupeluk erat badan mungilnya. Dengan isak tangis keluargaku benar - benar dipenuhi haru hari ini, Otakku berjalan lambat ke belakang dan membiarkan kotak di pojok otakku memutar kembali memori kita sekeluarga. Aku teringat beberapa minggu lalu saat ayah baru pulang dari Amerika. Keluargaku benar – benar senang dan bahagia. Hingga kutemui Pelangi dan kutembak dia. Saat ayah memberikan oleh – olehnya pada kami. Dan saat Hugo menggangguku ketika bertelepon dengan Pelangi. Oh betapa berbeda sekali dengan hari ini. “Tito!!” panggil mama dan menyadarkan lamunanku akan memori beberapa minggu lalu. Mama memberi kertas berisi biaya yang harus dibayar untuk perawatan ayah. “ Segini banyak, Ma?” aku bertanya heran pada mama. Mama menganggukkan kepalanya pertanda kata – kata “ IYA” Gimana cara mendapatkan uang sebanyak ini? Aduh… Pikiranku lebih kacau dan makin stress ketika Pelangi berkata ia akan pergi ke Australia. Ya ampun! Apa ada lagi cobaan yang akan menerkamku setelah ini? Ah! Terpaksa aku harus merelakan kepergian Pelangi ke Australia. Tapi kali ini lebih haru lagi yang kurasakan. Hatiku seakan dicabik – cabik. Aku berharap Pelangi bisa mengingatku di sana. Kuharap Pelangi juga akan menepati dan tidak mengingkari belasan janjinya padaku. Baiklah, aku masih punya gantungan kunci dari Pelangi. Aku harus memikirkan caraku mendapatkan uang untuk perawatan ayah. Tapi dimana? Oh iya! Ada Paman Heru! Paman yang paling berjasa di dunia balapku. Aku pergi ke rumah Paman Heru saat itu juga. Aku lihat Paman Heru sedang bersantai di depan rumahnya sambil minum kopi. Aku menyapanya dan mulai berbincang beberapa lama. “Kamu butuh uang berapa To?” Paman Heru bertanya sambil bersiap mengambil dompet kulit dari saku celananya. “Segini Paman” aku memberikan kertas yang diberikan mama saat di rumah sakit. “ Wah. Banyak nih To. Oke paman mau kasih. Tapi Cuma bisa seperempatnya aja. Sisanya cari sendiri oke?” sahut paman. “Oke deh paman.” Balasku sedikit kecewa. Paman Heru mengeluarkan hampir seluruh isi dompetnya. Ku raih uang itu. Aku mengucapkan terimakasih. “ Ehm, paman. Cari sisanya dimana yah? Maaf ya paman kalo ngrepotin..” “ Aduh dimana ya? Paman Heru udah jarang banget ketemu event – event balap.” Jawab Paman Heru. “ Bener nih Paman? Ngga ada sama sekali?” tanyaku sekali lagi untuk meyakinkan. “ Ada sih satu. Paman kemarin ketemu satu event. Hadiahnya lumayan gede juga” jawab paman sekali lagi. “Ya udah aku ikut.” Jawabku tanpa pikir panjang. “Tapi yang ngadain Komunitas Bali.” Ujar Paman. “Hah? Bali? Balap Liar paman?” tanyaku dengan heran. “Iya. Kamu tau kan konsekuensinya?” “Emmmm, oke deh gapapa. Pokoknya ayah sembuh.” Setelah kubicarakan hal ini dengan mama, Tami dan Hugo, tak ada yang menyetujui kesepakatanku kecuali Hugo. Hanya dia yang menyemangatiku saat itu. “ Udah To. Kalo ada barang yang bisa dijual, biar mama jual daripada kamu ikut balapan kaya gitu.” Mama melarangku. “ Iya kak. Biar nanti Tami jual gorengan atau apa gitu buat bayar biayanya ayah. Daripada kakak nanti kenapa – napa.” Tami yang masih di bangku SD itu juga berusaha melarang. Tapi keputusanku udah bulat. Aku akan tetap mengikuti balap ini. Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Sudah siap aku di atas motor balapku ini. Tak lupa ada gantungan kunci dari Pelangi yang menemaniku. Para cewek – cewek di depanku menarik bendera hitam putih di tangan mereka. Segera melaju kami semua. Urutan pertama ada rivalku si Joe. Tapi aku berusaha menyalipnya. Beberapa lap sudah kulewati. Tinggal satu lap lagi. Aku masih di urutan dua. Joe mengencangkan lagi gasnya. Aku juga tak mau kalah. Aku tancap gasku. Kini jarakku dengan Joe hanya beberapa cm! Kutancap lagi gasku! Garis finish sudah ada di depanku. Mataku mulai jeli memainkan trik. Kutancap gas hingga aku berada di depan Joe. Kuhalangi laju motor Joe dengan zig zag. Tinggal sedikit lagi.. Ya, ya, ya.. YESSS!!! Aku berhasil mencapai urutan pertama di garis finish. Paman Heru berteriak menyemangatiku dari jauh. Para penonton menyoraki dan memberi tepuk tangan untukku. Sangat haru sekali. Sangat memuaskan. Tapi, polisi! Polisi! Polisi! Penonton berlarian kesana kemari. Para pembalap lain melaju kencang tak berarah. Paman Heru berteriak padaku “Tito!!!! Ayo pergi!!!! Paman ga mau kamu ditangkap polisi!!!” “Lhoh kenapa paman???!!!!! Aku kan belum dapat hadiahnya!!!!” teriakku membalas paman Heru. “Tito ini Balap Liar!!!!! Kamu lupa ya????!!!!!!” Jregg. Oh iya!! Aku baru teringat. Kutancap gasku. Aku melaju tanpa arah. Tak kusangka segerombolan cewek centil berlari dengan histeris di depanku. Aku rem motorku dengan sangat mendadak dan dengan kecepatan yang melebihi normalnya. Keseimbanganku goyah. Aku terjatuh dari motorku! Kaki kiriku tertindih body motorku. Sebelum kubebaskan kaki kiriku, kuraih dulu gantungan kunci dari Pelangi. Sedikit lagi…, yah! Aku berhasil membebaskan kakiku! Gantungan kunci dari Pelangi juga sudah kukantongi. Belum aku berdiri dari jatuhku, seorang pembalap dengan motor besarnya segera melindas kedua kakiku dengan kecepatan tinggi. Sakit sekali! Aku mengerang kesakitan. Benar – benar sakit. Lebih sakit daripada hatiku yang tercabik saat Pelangi pergi. Paman Heru datang menghampiriku. Belum sempat aku mendengar Paman Heru berbicara, pandangankupun gelap. Apa ini? Aku sudah mati? Oh aku sudah mati ya. Ternyata aku sudah mati. Perlahan – lahan aku membuka mataku. Rasanya sudah lama sekali aku tidur. Tapi ada mama di depanku. Tami dan Hugo juga ada. Baunya sama persis ketika aku melihat ayah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Oh? Aku sedang ada di rumah sakit? Aku bangun dari tidurku. Kulihat anggota badanku. Ada yang hilang!! Kakiku!! Mana?? Dimana kedua kakiku? Tertanya peristiwa itu membuat aku kehilangan kedua kakiku. Harusnya aku menuruti nasehat mama dan Tami. Pasti tidak akan seperti ini jadinya. Ah! Tapi nasi telah menjadi bubur. Apa daya?? “Kak, waktu kakak koma, kak Pelangi dating kesini lho.” Kata Tami saat aku berbaring di ranjang tidur. “ Oh ya? Terus terus? Kak Pelangi bilang apa aja?” tanyaku penasaran dan langsung bangkit dari tidurku. “Enggak bilang apa – apa. Cuma kesini pegang tangan kak Tito terus pulang.” Jelas Tami. “Cuma gitu? Dia ga nitip apa – apa?” aku heran. “ Emm, enggak kok.” Jawab Tami ragu. “oh. Ya udah deh”. Siang itu hujan turun. Aku sangat ingat pada Pelangi. Soalnya dia pernah buat janji tiap ada hujan turun dia akan balik buat liat pelangi sama – sama. Dengan bantuan dorongan Hugo, aku menelusuri lorong rumah sakit hingga ke lobby dengan kursi roda. Kutunggu terus hingga Hugo tertidur di atas sofa. Tapi hingga larut ia tak juga datang. Namun aku sangat menyesal menunggunya sejak aku melihat surat yang terletak di atas meja. Andai saja waktu Tami bercerita padaku, aku tau kalau di tangannya ada surat dari Pelangi. Surat itu berisi : “Buat Tito sahabat gue sekaligus pacar gue yang paling gue sayang. To, gue minta maaf. Gue ga bisa balik lagi buat liat pelangi sama – sama lagi kaya dulu. Soalnya di sini gue udah ketemu ama cowok yang gue pikir bisa dampingin hidup gue. Tolong titip gantungan kuncinya ya. Rawat yang baik oke?” Itupun belum semua. Yang paling membuat aku menyesal menunggunya semalaman adalah kalimat terakhir dari suratnya. Yaitu: “Gue ga bisa hidup sama orang cacat kaya lo” Kini kusadari, pelangi hanya terbentuk dari pembiasan yang tidak nyata. Namun bisa membuat satu cahaya putih menjadi bermacam – macam warna. Tetapi pelangi hanya sementara dan bila tak ada air dan cahaya pelangi hanya akan mengingkari janjinya untuk menyinari dunia. Sama seperti si Pelangi. Pelangi memiliki ciri – ciri yang kuimpikan namun tidak nyata di hatinya. Ia bisa membuat hidupku berwarna dan ceria. Tapi hiburan itu hanya sementara untukku dan bila tidak ada diriku yang utuh seperti dulu, ia mengingkari janjinya dan berpaling.

Can't Leaving You

“Kalau kamu benar-benar sayang aku, kuberikan kamu waktu 4 bulan sampai awal bulan November nanti. Selama itu, kamu gak boleh berkomunikasi dengan aku, melihat fotoku, dan mencari tau segala tentang aku. Selama 4 bulan, gimana?”
Jgerr.. suara petir bergemuruh dalam hati Oscar. Bagaimana tidak? Reisha, cewek yang selama ini ia sukai malah memberikan sebuah tantangan konyol untuknya, disaat ia sudah benar-benar berani untuk mengungkapkan isi hatinya. Benar-benar aneh. Apa ini hanya cara halus untuk menolakku? Pikir Oscar.
“Kamu mau menolak aku?” Tanya Oscar, ingin mendapat kepastian.
“Bukan menolak, tapi aku hanya memberikan tantangan kecil buat kamu.” Jawab Reisha santai, seakan tak ada beban.
“Tapi, menunggu selama 4 bulan itu bukan waktu yang sebentar, Rei! Apa alasanmu untuk itu?” balas Oscar masih tidak terima.
“Tak perlu alasan yang tepat. Kamu benar-benar sayang sama aku, kan?” balas Reisha lagi, seraya memberikan tatapan mata malaikat terbaiknya.
“Ya, tentu saja.”
“Kalau begitu, lakukanlah! 4 bulan bukanlah waktu yang lama jika kamu benar-benar manjalaninya. Aku gak bakal jalan sama cowok lain, aku berjanji.” Reisha memberi jeda sebentar. “Dan jika kamu gak bisa menunggu, kamu bisa mencari cewek lain.” Lanjutnya.
Oscar benar-benar semakin kaget dan tak mengerti akan jawaban dari Reisha. Tapi, dia benar-benar menyayangi cewek satu ini. Mungkin saja ia akan sanggup untuk menunggunya. Tapi apa alasannya? Kenapa tidak katakan saja? Oscar memberi jeda sebentar untuk berpikir.
“Baiklah, hanya selama 4 bulan. Aku akan menunggu kamu, asalkan kamu berjanji tidak jalan sama cowok lain. Aku benar-benar sayang kamu.” Putus Oscar.
“Ya, tenang saja.” Balas Reisha singkat, dan sesingkat itu pula waktu mereka berbicara. Dan kini hanya waktulah yang akan katakan bagaimana masa ke depan nanti.
*
Sejak saat itu, Oscar terus menunggu dan menunggu. Baru saja 2 bulan dari waktu yang dijanjikan. Tapi keinginan untuk bertemu Reisha begitu besarnya. Cewek itu masih berdarah Cina, sama dengan diri Oscar. Namun, darah keturunan Belanda masih kental mengalir dalam dirinya. Mereka bertemu pada hari ulangtahun adiknya. Reisha manis, baik dan menyenangkan. Tidak pernah ada cewek yang benar-benar bisa mengikat hatinya seperti ini.
Namun, Oscar benar-benar menepati janjinya. Di tengah rindu yang semakin hebat ini saja, Oscar menahan diri untuk tidak memandangi foto Reisha, apalagi memaksa untuk bertemu. Namun, perasaan alami sebagai seorang manusia yang dapat merasakan jatuh cinta dan rindu, tetap saja tak bisa ia sangkal. Ia benar-benar merindukan Reisha, suaranya, wajahnya yang cantik bahkan masih belum bisa ia lupakan. Ia benar-benar jatuh cinta
“Aahhh.. kangen!” jeritnya dalam kamarnya. Merasa tidak ada siapa-siapa. Namun, suara seseorang mengagetkannya.
“Koo! jangan teriak-teriak gitu, kangen boleh aja, asal jangan sampe merusak mental!” seorang cewek berperawakan mungil dan imut memasuki kamar Oscar. Dia adalah Olivia, adik semata wayang Oscar sekaligus sahabat karib Reisha.
“Gimana koko gak cacat mental. Koko kangen betul sama Rei! Kamu kan temennya Liv, masa kamu gak mau bagi-bagi cerita tentang Rei ke aku?” Pinta Oscar agak memohon.
“Gak bisa! Lagian aku sudah janji ke Rei gak bakal cerita apapun tentang dia ke koko. Lagipula, baru 2 bulan. Koko harus bisa jalanin sampai habis dong!” protes adiknya.
“Iya lah, me.” Balas Oscar, sambil memandang sebuah obyek dihadapnya.
“I trust u can, ko!” Olivia menyemangati. Sesaat kemudian handphone-nya berdering, 1 sms masuk.
“Dari siapa, me?” Tanya Oscar.’
“Dari Reisha, dia ngingetin aku untuk jalan bareng hari ini, hihi.” Olivia pamer terhadap kakaknya
.“Jalan kemana?” Oscar ingin tau.
“Rahasia dong!” Balas Olivia berjalan keluar kamar kakaknya seraya tertawa cekikikan.
“Ahhh.. curang!” protes iri Oscar. Namun, adiknya tetap berlalu.
*
Di sisi lain kota.
Terlihat 2 orang cewek cantik sedang berjalan-jalan di sekitar mal Citra Square, suasana persahabatan terasa kental antara mereka. Nonton bioskop bareng, makan es krim di café yang baru dibuka, bahkan window shopping bersama, sesekali mereka mencoba dan membeli barang yang benar-benar menarik perhatian mereka. Kedua cewek itu berparas oriental, salah satu dari mereka bertubuh mungil dan imut lainnya tinggi dan terlihat lebih ‘indo’. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Olivia dan Reisha.
“Rei, gimana dress-nya, lucu gak?” Olivia mencari tau pendapat Rei dengan mengenakan dress putih beraksen pita yang akan dibelinya di sebuah butik mini.
“Cantik, cocok sama kamu, Liv!” Komentar Rei sambil tersenyum. Olivia pun tertawa dan membayar bajunya. Sesudahnya dari butik, mereka berjalan bareng ke sebuah café kecil disana.
“So, kenapa kamu ngasih tantangan gitu ke Oscar, Rei?” Tanya Olivia sambil menyendokkan es krim matcha kesukaannya.
“Gak apa-apa kok, Liv.” Balas Reisha singkat.
“Tapi, 4 bulan bukan waktu yang sebentar?” protes Olivia, sama dengan kakaknya.
“Iya, aku tau.”
“Lalu, apa alasanmu memberi tantangan seperti itu?” Olivia ingin tau.
“Susah dijelaskan, nanti kamu juga akan tau.”
“Kamu suka Oscar?”
“Tak perlu ditanya lagi.” Reisha menyudahi obrolannya, lalu keduanya-pun tak berbicara apapun lagi. Tak tau topik apa lagi yang harus diucapkan. Keduanya sibuk dalam diam.
Tiba-tiba, Reisha merasakan sakit kepala yang amat sangat menyakitkan, membuat wajahnya terlihat pucat, dan keringat dingin mulai bercucuran. Ia merintih, tubuhnya mulai limbung di tempat.
“Rei, kamu kenapa?” Olivia panik. Namun, Reisha tak menjawab. “Rei, kamu kenapa sih? Jangan pingsan disini, Rei!” Olivia semakin panik. Tapi, Reisha masih belum dapat menjawab, kepalanya bagai dihantam palu godam akhir-akhir ini. Semua terasa berputar pada tempatnya. Dan tanpa ia sadari, pandangannya kini t’lah berubah menjadi putih yang menyilaukan, lalu gelap.
*
Oscar panik sekali. Tadi sore adiknya mengatakan bahwa Reisha pingsan sampai harus dibawa ke rumah sakit segala. Oscar takut, dia khawatir akan keadaan orang yang dicintainya itu. Ia pun bergegas berganti baju dan mengendarai mobilnya, waktu berjalan amat sangat lambat sekali, bahkan di kecepatan 80km/jam itu, Oscar merasa masih harus lebih cepat lagi.
Ia tak perduli dengan perjanjian akan tantangan konyol itu. Memang baru setengah waktu ia jalani untuk tak bertemu dengan gadis itu, tapi dengan keadaan seperti ini. Janji itu sudah hampir tak dihiraukannya lagi. Yang penting baginya saat ini adalah menemui Reisha dan mengetahui bahwa gadis itu akan baik-baik saja. Oscar sampai pada parkiran rumah sakit. Seperti orang gila, ia berlari menuju ruangan tempat Reisha dirawat. Ia mendobrak pintunya begitu saja. Mengagetkan Reisha dan Olivia yang berada disana. Reisha terlihat lemah sekali.
“Reisha! Kamu gak apa-apa kan?” Tanya Oscar panik, menatap Reisha yang berbaring ditempat tidur. Rei pun mengubah posisinya, ia duduk lebih tegak.
“Aku baik-baik aja, ko. Gak usah berlebihan begitu.” Balas Reisha. Ia pun memberikan tatapannya kepada Olivia, meminta cewek itu bisa membiarkan ia berdua dengan kakaknya. Olivia mengerti. “Aku keluar sebentar, ya? Cari makan.” Sahut Olivia, dan ia pun meninggalkan ruangan itu. Dan sekarang, hanya tersisa Oscar dan Rei di dalamnya.
“Untuk apa ada disini?” ucap Rei, dingin. Namun, Oscar tak menjawab, malah memindahkan tubuhnya sehingga kini ia berdiri di samping Reisha.
“Waktu 4 bulan itu belum berakhir.” Lanjut Reisha.
“Aku tau, aku hanya menghawatirkanmu.” Balas Oscar.
“Tak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik-baik saja.” Sahut Rei tenang, namun lagi-lagi ia merasakannya. Kepalanya mulai sakit lagi, amat sangat sakit. Reisha merintih, bahkan berteriak. Kekhawatiran Oscar semakin memuncak. Dan pandangan Rei mulai terasa gelap, ia terjatuh tepat saat Oscar menangkap tubuhnya dan menahan kepalanya, Oscar berteriak memanggil para suster. Dan kala ia melepaskan tangannya dari kepala gadis itu untuk membaringkannya. Betapa terkejutnya ia, rambut indah Rei yang panjang dan tebal itu, rontok sangat banyak ke telapak tangan Oscar. Kala itu, pikiran Oscar semakin terpikir dengan apa yang akan terjadi, sesuatu yang bahkan tak bisa ia bayangkan sebelumnya.
*
KANKER OTAK
Penyakit itulah yang membuat seorang Reisha kini berbaring lemah didalam ruangan rumah sakit ini. Oscar semakin tak percaya dengan kenyataan yang ada, mengapa gadis seperti Reisha bisa terkena penyakit seperti ini? Hidup terasa seperti dalam sinetron. Sudah lebih 3 minggu Reisha dirawat dirumah sakit. Oscar selalu setia datang menjenguk tiap hari untuk orang yang dikasihinya itu. Sakit kepalanya masih sering kambuh, dan para suster selalu bolak balik untuk menyuntikkan cairan (semacam obat penahan rasa sakit), kepada Reisha. Oscar tak tahan untuk menyaksikannya. Tetapi, bagaimanapun keadaan Reisha sekarang, dia tetap satu-satunya di hati Oscar. ‘Tuhan, tolong sembuhkanlah dia!’ pinta Oscar dalam hati.
*
Oscar memandang tak percaya pada sosok dihadapnya, yang sekarang terlihat begitu lemahnya. Reisha pun terbangun dari tidurnya dan mendapatkan Oscar disebelahnya.
“Kau tak perlu susah-susah menjengukku.” Sahut Reisha dingin.
“Aku selalu menghawatirkanmu, Rei!”
“Tak perlu!” balas Rei sengit.
“Aku sayang kamu, Rei!”
“Tinggalkanlah aku. Carilah yang lain. Bukankah aku sudah bilang, jika kau tak bisa menunggu, kau boleh mencari yang lain. Aku buat perjanjian itu, agar kau bosan menungguku dan pergi.” Rei berkata panjang lebar,
“Perjanjian itu sudah tak berarti bagiku.” Oscar berkata mantap.
“Bahkan setelah keadaanku seperti ini. Tubuhku akan sangat melemah. Bahkan rambutku ini akan merontok hingga habis. Kau jangan bercanda, tak ada harapan lagi untuk hidupku.” Reisha berteriak dihadapan Oscar. Matanya mulai berkaca-kaca. Hatinya sebenarnya sakit, namun ia menahannya.
“Aku tak perduli! Walaupun perjanjian itu tak ada, aku tetap menunggumu!” balas Oscar, meyakinkan pada Reisha. “Jangan bercanda.” Nada Rei mulai melemah.
“Aku gak bercanda, Rei! Karna orang itu kamu, aku akan tetap setia, bagaimanapun keadaannya, aku takkan meninggalkanmu. Karna aku menyayangimu.” Oscar berkata dengan tegas. Hati Reisha tertohok mendengarnya. Ia pun mulai terisak lagi, tak percaya ada orang yang benar-benar mencintai dirinya sebegitu dalamnya, bahkan pada saat tak ada harapan lagi untuknya. Reisha berusaha menahan tangisnya dihadapan Oscar. Namun, tak disangkanya Oscar memeluknya, Reisha membiarkannya.
“Menangislah, tak usah lagi kau mentegarkan diri seperti itu. Ada aku disini.” Dan Reisha pun benar-benar menangis.
“Aku sayang kamu, Oscar! Tetaplah disampingku.” pinta Reisha.
Dan setelah itu pun. Cinta Reisha dan Oscar mulai bersemi sebagaimana mestinya. Oscar menyayangi Reisha setulus hatinya, begitupun dengan gadis itu. Ia tidak ingin Oscar pergi meninggalkannya. Keduanya tetap berjalan menggandeng tangan, walau mereka tau, halangan didepan mereka tidaklah semudah seperti apa yang mereka pikirkan. Namun, mereka yakin, keajaiban selalu ada, tuhan selalu adil. Semangat hidup Reisha perlahan mulai meningkat. Namun, hanya waktu yang dapat menjawab apa yang akan terjadi. Manusia hanya bisa menerimanya.
*
2 BULAN KEMUDIAN..

Bau tanah yang basah masih jelas tercium, bunga segar tertabur diatasnya. Mengakhiri pemakaman seorang Reisha. Gadis itu terpaksa harus dioperasi karna keadaannya sudah tak memungkinkan lagi. Namun, manusia tak bisa selalu mendapat apa yang diinginkannya. Termasuk menahan takdir. Oscar menerimanya dengan lapang dada.
Ia terima, jika memang harus kehilangan orang yang dicintainya. Otakknya semakin mengulang jelas memori akan dia dan Reisha. Pandangannya kabur, matanya berkaca-kaca walau sekuat apapun ia menahan. Ternyata rasanya sakit sekali kala kita harus melepaskan orang yang dicintai. Ia masih tak percaya ini terjadi, ia masih berasa ada di dalam cerita sinetron. Tapi, ini bukanlah cerita sinetron. Ini nyata, dan Oscar mengalaminya dan harus menerimanya, walau sekuat apapun ia menyangkal. Satu yang pasti. Reisha t’lah tiada dan takkan kembali. Mungkin, gadis itu tak pernah merasa banyak kebahagiaan dalam hidupnya. Namun, Oscar yakin, ia adalah kebahagiaan untuk gadis itu di akhir hidupnya. Dan pada saatnya, Reisha menjadi salah satu bagian dari langit. Ia pasti akan menunduk kebawah, kedunia tempatnya sebelumnya, dan tersenyum pada Oscar dari atas sana. Oscar percaya itu. Karna, ia tau, gadis itu juga mencintainya, sama seperti cinta Oscar kepadanya. Oscarpun mendongakkan kepalanya, memandang langit. Iapun tersenyum. Bukan kepada langit, tapi kepada Reisha. Cinta terindahnya.