togetherness to be the best
Pages
Sopo Sing Melu
Sing Nang Njero
MATERINe KULIAH
Pirawuh
How to delete virus shortcut
How to delete virus shortcut
Kita pasti merasa jengkel dengan laptop/computer yang tanpa kita sadari terserang junk virus/virus shortcut yang jika dihapus dia selalu kembali lagi dan jika dibiarkan di laptop/computer maka dia akan merusak system yang akhirnya memaksa kita untuk melakukan install ulang.
Tapi anda tidak harus melakukan install ulang karena junk virus/virus shortcut masi bisa kita hapus dengan menggunakan anti virus yang kita pakai dalam computer/laptop. Tapi jika antivirus kita tidak mampu menghapusnya maka anda jangan langsung mengambil keputusan seperti berikut ini:
1. Jika anda terlalu sering melakukan install ulang maka akan merusak hard disk computer
2. Kita akan kehilangan data-data yang kita simpan di Local Disk (C:)
3. Menyita waktu kita karena harus menginstall lagi program-program seperti sebelum terkena virus
Yang wajib anda lakukan adalah
1. Mengupdate anti virus yang anda pakai di computer weekly or montly, Jika antivirus yang sudah anda update tidak mampu mengahapus junk virus/virus shortcut
2. Jika anda gemar surfing di internet maka jangan lupa lengkapi computer anda dengan internet security
3. Download antivirus yang memang memiliki kemampuan mengahapus nya, jika anda mau?saya punya silakan click di sini
More antivirus click here
Teori Ayub Totels
Ayub adalah anak rajin; Rajin Main PS, rajin Bolos dan Rajin Berjudi (terrr… La… ..Lu..) tapi ayahnya bangga, karena Ayub sukses menjalankan Managemen Bisnis Sayurnya,
Saking sibuknya Ayub, dia sampai tak sempat untuk belajar ngaji di Musholla
Suatu hari, Ayub dalam keadaan berduka, Eyangnya meninggal dunia, Ayub menangis dengan Histeris..
Suatu ketika, Menjelang Maghrib, Ayub di panggil oleh Ibunya
Ibu: Nak, sekarang Jum`at Legi,, tolong kamu pergi kekuburan eyang kamu, kamu ngaji disana biar
yang mu tenang disana, diampuni dosa-dosanya dan tidak masuk neraka, neraka itu panas Nak…!
Ayub: @$^$(*&%*)* (bingung)
Ayub tak pernah ngaji dan tak mengerti urusan agama, tapi Ayub tidak mau jadi anak durhaka, maka, dia pun berangka membawa Al-Qur`an walau dalam pikirannya penuh dengan tanda Tanya..
Tapi ditengah perjalanan, Ayub berhenti dan berfikir sejenak dia ingat kata-kata ibunya yang terahir “Neraka itu Panas Nak..”, akhirnya Ayub kembali kerumahnya, dia menaruh Al-Qur`annya, kemudian dia mengambil toples dan mengisinya dengan air es yang berada di kulkasnya.. dan berangkat lagi menuju makam sang Eyang.
Sesampainya dikuburan, Ayub memulai dengan bacaan Basmalah, kemudian menyiamkan air dingin yang berada di toples ke makam sang Eyang.. sembari membaca Mantera:
“LANGSUNG DINGIN LANGSUNG SEGAR ISTIMEWA WA WA WA WA”
HIKMAH 8 X 3 = 23
Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi.”
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan.”
Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”
Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu.”
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tau duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.”
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.
Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.” Yan Hui bilang, “Baiklah,” lalu berangkat pulang.
Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti. Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.
Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?” Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.
Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”
Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)
Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus “do it yourself”)
Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman)
diambil dari blog Laila
Tentang Kita
- Acara (4)
- Coretan Sahabat (5)
- Makalah Kita (3)
- Planing (1)
Arsipun Bellog
Rencang-rencang